Cerita Nabi Dan Tawanannya

“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: “Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampunimu,” dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70)

Ayat ini diturunkan ketika Nabi Muhammad SAW telah berhasil mengalahkan orang-orang kafir, membunuh sebagian dari mereka, dan merampas sebagian harta mereka. Beliau juga menawan banyak orang kafir dan membelenggu tangan dan kaki mereka. Salah seorang tawanan itu adalah paman Nabi Muhammad SAW sendiri, yaitu ‘Abbas.

Para tawanan itu menangis meraung-raung sepanjang malam dalam belenggu dan tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka telah kehilangan harapan, menunggu pedang menebas leher dengan sekali hunus. Ketika melihat keadaan mereka, Nabi Muhammad SAW hanya tertawa.

Para tawanan itu berkata: “Lihat! Ia menunjukkan sifat kemanusiaannya, dan pernyataan bahwa dia manusia luar biasa tidaklah benar. Lihatlah! Ia di sana menatap dan memperhatikan kita dalam rantai dan belenggu ini, dan ia menikmatinya. Ia tak ubahnya budak-budak hawa nafsu yang ketika berhasil menaklukan musuh-musuhnya dan melihat mereka dalam keadaan tak berdaya, ia tertawa riang dan berbahagia.”

Melihat sesuatu yang tampak dengan jelas di dalam hatinya, Muhammad SAW menjawab: “Bukan begitu, aku tidak pernah tertawa melihat musuh-musuhku yang telah takluk di hadapanku, atau melihat mereka tak berdaya dan hina. Aku senang, bahkan tertawa, karena aku melihat dengan mata hatiku, aku mengajak dan menarik-narik sejumlah orang dengan sepenuh tenaga, dengan belenggu, dengan rantai, keluar dari kepulan asap neraka Jahannam yang hitam dan kelam menuju Surga, menuju keridaan Allah, dan musim semi yang abadi. Akan tetapi justru mereka terus mengeluh dan menangis meraung-raung, sambil berakata: “Mengapa kau menyeret kami dari tempat kebinasaan ini menuju taman-taman bungan dan tempat yang paling aman?”

Itulah mengapa aku tertawa. Meski demikian, karena kalian tidak dianugerahi kemampuan untuk melihat apa yang aku lihat dan tidak memahami apa yang baru saja aku katakan, Allah memerintahkanku untuk menyampaikan ini padamu:

“Pada mulanya, kalian susun kekuatan, membentuk para tentara, membuat formasi kemiliteran, kalian begitu percaya diri dengan kejantanan, keberanian, dan kekuatan yang kalian miliki, lalu berkata pada diri sendiri: ‘Inilah yang kami lakukan, kami akan hancurkan orang-orang Islam dan menaklukan mereka.’ Tapi kalian tidak melihat keberadaan Yang Maha Kuasa, yang jauh lebih berkuasa dari kalian. Kalian tak tahu keberadaan Yang Maha Kuat, yang kekuatan-Nya jauh di atas kekuatan kalian.”

Itulah yang membuat semua yang kalian rencanakan sepenuhnya gagal total. Bahkan, saat ini, ketika kalian dirundung ketakutan, kalian tidak dapat mengubah keyakinan, tidak dapat melihat pada alasan. Kalian berputus asa dan tetap tidak dapat melihat keberadaan Yang Maha Kuasa. Justru saat ini kalian melihat pada kekuatanku, kemampuanku, dan yang kalian tahu, kalian takluk karena kehendakku, sebab hanya sebatas itulah yang paling mudah yang dapat kalian pikirkan. Bahkan ketika rasa takut kalian sudah sampai di ubun-ubun, jangan pernah kehilangan harap terhadapku, karena aku dapat membebaskan kalian dari rasa takut itu, membuat kalian berada dalam rasa aman. Dia yang mampu mengeluarkan banteng hitam dari banteng putih, pasti juga mampu mengeluarkan banteng putih dari banteng hitam.

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah (berkuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.” (QS. Al-Hajj: 61)

“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.” (QS. Ar-Rum: 19)

Sekarang, saat kamu berada dalam ketakutan yang luar biasa, jangan pernah kehilangan pengharapan terhadap-Ku, sebab Aku masih akan mengulurkan Tangan-Ku untuk kalian.

“Sesungguhnya tiada berputusa asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Allah SWT berfirman: “Hai para tawanan, jika kalian berpaling pada keyakinan yang dulu, memandang-Ku dengan khauf (rasa takut) dan raja’ (penuh harap), dan menyadari bahwa diri kalian berada dalam kendali-Ku, maka Aku akan membebaskan kalian dari rasa takut itu. Aku juga akan mengembalikan semua harta yang dirampas saat perang dan kerusakan yang telah terjadi, bahkan akan Aku lipatgandakan dengan sesuatu yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Akan Aku ampuni kalian dan akan Aku gabungkan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk kalian.”

“Aku bertobat, aku telah berpaling dari keyakinanku yang terdahulu,” kata ‘Abbas.

Rasulullah bersabda: “Pengakuan tobat yang baru saja kamu ucapkan butuh bukti,”

Menyatakan cinta adalah hal yang mudah
Tetapi pernyataan itu butuh bukti dan fakta.

“Dengan menyebut nama Allah, bukti apa yang engkau inginkan,” jawab ‘Abbas.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Jika kamu benar-benar seorang Muslim dan menginginkan kebaikan pada Islam dan umatnya, berikan sejumlah harta yang tersisa dari dirimu kepada tentara Islam, sehingga tentara kita bisa lebih kuat!”

‘Abbas berkata: “Wahai Rasulullah, harta apa lagi yang tersisa dariku? Semua milikku telah dirampas, bahkan mereka tidak menyisakan apa-apa selain karpet lusuh ini.”

Rasulullah bersabda: “Lihatlah, kamu tidak jujur. Kamu belum kembali dari kebiasaan buru masa lalumu. Kamu belum melihat cahaya kebenaran. Haruskan aku katakan kepadamu seberapa banyak harta yang kamu miliki, di mana kamu menyembunyikannya, pada siapa harta itu kamu titipkan, dan di tempat seperti apa kamu menguburkannya?”

‘Abbas menjawab: “Tidak. Sungguh aku sudah tidak punya apa-apa lagi.”

Rasulullah bersabda: “Bukankah kami menitipkan sejumlah harta pada ibumu? Bukankah kamu menguburkan hartamu di tempat ini dan itu? Bukankah kamu mengatakan secara rinci pada ibumu: ‘Jika aku kembali, kembalikan semua harta ini kepadaku. Jika aku tidak kembali dengan selamat, belanjakanlah beberapa jumlah dari harta ini untuk suatu kepentingan tertentu, berikan sekian kepada fulan, dan bagian untukmu adalah sekian?”

Ketika ‘Abbas mendengar hal itu, ia mengangkat jemarinya dengan penuh keimanan. Ia berkata: “Ya Rasulullah, dahulu aku selalu yakin bahwa dirimu mewarisi nasib baik para raja terdahulu seperti Haman, Syadad, Namrud, dan yang lainnya. Tetapi setelah engkau mengatakan hal-hal tadi, aku langsung percaya dan yakin bahwa yang baru saja engkau katakan adalah rahasia Allah.”

Nabi Muhammah menjawab: “Kau benar. Kali ini aku mendengar gemeretak keraguan di dalam hatimu, yang gemanya terdengar dalam ruang telingaku. Aku memiliki telinga yang tersembunyi di balik jiwaku yang terdalam. Dengan telinga itu, aku dapat mendengar geretak keraguan, kemusyrikan, dan kekafiran di dalam hati semua orang. Suara-suara itu terdengar oleh telinga jiwaku. Sekarang, kamu benar-benar telah melepas masa lalumu, dan menjadi seorang Mukmin.”

Baca: Tafsir Rumi Tentang Makna Dari Cerita Nabi Dan Tawanannya

Advertisements

One thought on “Cerita Nabi Dan Tawanannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s