Sahabat

“Apa yang membebaniku dengan keluluhlantakan ini, jika dalam kefanaan tersimpan harta karun Sang Sultan.”

Pernyataan tersebut diucapkan Maulana Jalaluddin Rumi ketika bertemu Syamsuddin al-Tabrizi –seorang pria berperawakan tinggi, wajahnya padat berisi, serta kedua matanya dipenuhi oleh amarah dan kasih sayang. Dia banyak bersedih dan umurnya sekitar enam puluh tahun.

Syams telah banyak bergulat dengan para guru tarekat dan sempat menimba ilmu kepada beberapa mursyid, di antaranya adalah Abu Bakar as-Sallal at-Tabrizi dan Ruknuddin as-Syijasi. Tetapi, mereka tidak dapat menjawab kegoncangan jiwa yang dialami oleh Syams, serta memuaskan beberapa persoalan yang menghinggapi jiwanya.

Karena merasa tidak puas, Syams kemudian meninggalkan kampung halamannya untuk mencari seseorang yang mampu memberinya jawaban. Ia pernah berkata: “Aku mencari seseorang yang sejenis denganku agar aku dapat menjadikannya kiblat, tempatku menghadap. Aku telah jenuh dengan diriku sendiri.”

Demikianlah hingga akhirnya Syams pergi dari Tabriz menuju Baghdad dan terus melanjutkan perjalanannya ke Damaskus, tempat Ibnu ‘Arabi berada. Di sini, terjadilah pergulatan dan diskusi antar keduanya.

Syams masih terus mengembara dari satu kota ke kota lainnya dan akhirnya sampai ke kota Konya. Ia diliputi kebingungan, sebagaimana disinggung dalam beberapa tulisannya yang mengambarkan kebingungan itu. Ketika Syams sampai ke sana, ia tidak mengetahui apakah akan menemukan seseorang yang dicarinya atau tidak. Dengan menyembunyikan identitas aslinya, Syams menyewa sebuah kamar bersama seorang pedagang di kediaman seorang wanita pedagang pula. Sampai akhirnya ia menemukan Rumi.

Berbagai macam versi yang serupa dalam riwayat-riwayat ini meyakini jika Syams tahu akan keberadaan Rumi di kota Konya. Di tengah persinggahannya itu, ia selalu menunggu kesempatan untuk menemuinya, dan akhirnya ia meyakini bahwa Rumi sama dengan para pengajar lainnya yang kering dan dangkal.

Namun demikian, di awal pertemuan keduanya, Syams telah mengagumi beberapa potensi yang ada dalam diri Rumi, dan demikian juga sebaliknya. Beberapa sumber hikayat menjelaskan bahwa Syams turun laksana guntur menyambar cakrawala pemahaman Rumi, hingga ia ingin guntur itu yang meluluhlantahkan dirinya. “Apa yang membebaniku dengan keluluhlantakan ini, jika dalam kefanaan tersimpan harta karun Sang Sultan.”

Setelah keduanya bertemu, semangat belajar dan mendidik murid dalam diri Rumi menjadi sirna. Ia tinggalkan majelis taklim dan kebiasaannya menjadi imam salat, dan lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan menari dan memukulkan kedua kakiya ke tanah, tenggelam dalam alunan lagu-lagu ghazal yang memengaruhi jiwa.

Fenomena ini menyulut kemarahan para pengajar fiqih yang akhirnya mengucilkannya dan menghasut para pengikut Rumi. Akhirnya, satu persatu dari pengikutnya meninggalkan Rumi dan berpindah kepada para fukaha itu.

Fitnah telah memperdaya kota Konya hingga pengaruhnya membuat Syamsuddin Tabrizi beranjak dari kota tersebut. Pada 21 Syawal 643 H/1245 M, Syams pergi tanpa memberi tahu ke mana ia akan pergi.

Kejadian itu meninggalkan kesedihan pada diri Rumi. Ia pun semakin sering menyanyikan lagu-lagu ghazal untuk melipur lara hatinya, hingga lahirlah majelis baru, tempat di mana sag pemberi fatwa rindu untuk mengundang manusia bermain musik dan menyimaknya.

Sebagaimana keterangan yang didapat dari Dr. Muhammad Isti’lami, pentahkik kitab Matsnawi, bahwa pada akhirnya kebahagiaan menghampiri Maulana saat ia tahu Syamsuddin berada di kota Syam. Dalam senandung syairnya, ia berkata: “Waktu subuh mana lagi yang akan muncul, jika ternyata ia berada di kota Syam?”

Sudah beberapa lembar surat dan buku tak mampu membuat Syams kembali ke Konya, Rumi mengutus anaknya, Sultan Walad, ke Damaskus untuk menjemput sang guru. Sultan Walad kembali bersama Syams ke Konya pada bulan Dzulhijjah tahun 644 H/1246 M. Namun belum lama ia tinggal di sana, untuk kedua kalinya, permusuhan pada Syams dengan cepat mengakar kuat di seluruh hati masyarakat.

Karena tamu-tamu akal tidak dapat menerima keberadaan sang magician, sebagaimana pemahaman mereka yang sempit, menyebabkan mereka menuduh Rumi sebagai orang gila yang kelakuannya hanya menari di tempat-tempat umum dan di pasar-pasar.

Tidak jarang para ahli fiqih menyerang Rumi dan gurunya. Banyak pula dari sahabat dan musuh-musuhnya yang ingin menumpahkan darah Syams. Bahkan konon ada banyak riwayat yang menceritakan bahwa pada akhirnya Syams mati terbunuh.

Apa pun yang terjadi, faktanya adalah bahwa Syamsuddin al-Tabrizi menghilang dari penglihatan tahun 648 H/1247 M setelah tersulutnya fitnah yang kedua. Sedangkan riwayat tentang pembunuhannya tidak dapat dipercaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s